Kota Tarakan     Komunitas Blog Tarakan     LPSE Tarakan

Breaking News

Thursday, December 4, 2008

Museum Pak Nas Diresmikan

Kediaman keluarga Almarhum Jenderal Besar A.H. Nasution di Jalan teuku Umar 40 Jakarta kini dijadikan museum nasional. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla kemarin meresmikan museum pahlawan revolusi itu.

Pembangunan museum nasional Nasution itu merupakan keinginan dari istri A.H. Nasution, Johana Sunarti. Perempuan kelahiran Surabaya, 1 November 1923 itu ingin membuat prasasti kehidupan Nasution. Peresmian museum ini bertepatan dengan hari lahir AH Nasution. Barang-barang yang tersimpan di museum ini adalah koleksi pribadi seperti buku-buku, foto-foto, senjata, pakaian, alat rumah tangga dan lain-lain. Piagam penghargaan juga terpampang dalam museum ini.

"Semoga museum ini akan menjadi mata air yang mengalirkan kiprah, memberikan arah, mengajak kebijakan dalam bertindak, berkelana untuk menemukan makna bagi generasi muda negeri ini. Mata air yang menumbuh suburkan keadilan kuantitatif dan kualitatif," kata Bu Nas—sapaan Johana Sunarti saat memberikan sambutan kemarin (3/12).

Di museum seluas 200 meter persegi itu terdapat diorama kegiatan Nasution. Misalnya diorama Nasution sedang menulis di ruang kerjanya. SBY juga sempat tertegun melihat patung Bu Nas menggendong putrinya, Ade Irma Suryani, yang tertembak saat peristiwa pemberontakan G 30 S/PKI.

Presiden SBY mengatakan monumen sejarah tersebut akan menjadi kebanggaan para prajurit TNI serta bangsa Indonesia. "Saya pahami, bahwa tentu tidak semua lintasan dan jejak pengabdian Nasution bisa diabadikan di museum ini. Tetapi, paling tidak ada tonggak-tonggak penting yang dapat dilihat oleh generasi muda kita, dan generasi muda TNI yang akan melanjutkan perjuangan bangsa," kata SBY.

SBY mengaku kagum dengan Nasution. Terutama kagum dengan pemikiran-pemikiran Nasution yang brilian. "Pak Nas juga memiliki kepedulian yang tinggi pada pendidikan dan dunia pengetahuan. Buku karya Pak Nas yang berjudul Tentara Nasional Indonesia, Pokok-Pokok Perang Gerilya dan Sekitar Perang Kemerdekaan, telah menjadi buku favorit dan telah saya baca berkali-kali," katanya.

SBY mengingatkan agar masyarakat menghormati pahlawan dan memetikpelajaran dari sejarah. Indonesia berdiri dan dapat dipertahankan melalui pertautan langkah-langkah diplomasi dan militer. Langkah-langkah tersebut, dilaksanakan oleh para pejuang di bidang diplomasi, juga pejuang di bidang militer. Misalnya Bung Karno, Bung Hatta, Ruslan Abdul Gani, Jenderal Besar Soedirman dan Jenderal Besar A.H. Nasution.

"Marilah, berikan penghormatan yang layak bagi yang berjuang di bidang diplomasi dan militer," kata SBY. Hadir di acara kemarin Ibu Negara Ani Yudhoyono, Mensesneg Hatta Rajasa, Menbudpar Jero Wacik, serta Seskab Sudi Silalahi. Hadir juga Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Subandrio, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soemarjono, dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Bambang Hendarso.

Di acara yang dihelat di depan kediaman mantan presiden Megawati Soekarno Putri itu juga hadir mantan Menhankam/Pangab Wiranto dan mantan Wapres Try Sutrisno. Wiranto yang menjadi rival politik SBY itu duduk di deretan kursi paling depan, sejajar dengan SBY. Tapi jaraknya cukup jauh, sekitar 30 meter. Sehingga tak memungkinkan bertegur sapa.

SBY sempat mengangguk dan tersenyum kepada Wiranto saat berjalan untuk meninjau museum. Mau tidak mau, SBY harus lewat di depan ketua umum Partai Hanura itu. Tidak ada sepatah kata yang terlontar. (tom/iro/jpnn)

Sumber Radar Tarakan

No comments:

Post a Comment

Designed By Published.. Blogger Templates