Kota Tarakan     Komunitas Blog Tarakan     LPSE Tarakan

Breaking News

Thursday, November 20, 2008

Rupiah Kian Mengkhawatirkan, Tembus Rp 12.190

Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berlanjut. Meski pemerintah telah mengeluarkan sejumlah langkah, kurs rupiah justru terus melemah. Pada perdagangan di pasar valas kemarin, untuk kali pertama kurs rupiah bertengger di atas Rp 12.000, yakni Rp 12.190 per dolar AS. Angka itu anjlok lebih Rp 400 dibanding hari sebelumnya dan terendah sejak April 2001.

Menkeu sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengatakan, apresiasi dolar AS terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah, dinilai bukan disebabkan kurangnya pasokan. Hal itu lebih disebabkan minimnya transaksi. Karena itu, hal paling penting yang harus dilakukan adalah mengembalikan confidence supaya transaksi tetap berjalan.

"Kalau tidak, semua yang pegang dolar akan hold. Disuplai berapa pun nggak akan cukup," kata Sri Mulyani di Kantor Depkeu, Jakarta, kemarin (19/11). Untuk itu, pemerintah meminta masyarakat, termasuk rumah tangga yang tidak memerlukan pegangan dolar, agar melepas dolarnya. "Kecuali dia punya anak yang kuliah di luar negeri," katanya.

Ani -sapaan akrabnya- juga minta dunia usaha bersiap menyesuaikan perhitungan kurs saat ini. Pelemahan rupiah akan menciptakan keseimbangan sementara. Dia berharap keseimbangan sementara itu tidak berlangsung lama dan tercipta ekuilibrium baru yang lebih sesuai kebutuhan dan kondisi fundamental perekonomian.

Untuk memperkuat nilai tukar rupiah dari sisi fundamental, pemerintah berupaya meningkatkan ekspor dan menekan impor. "Ekspor tetap diupayakan walau destinasinya menjadi sangat sulit," ujarnya. Penyeimbangan ekspor dan impor mesti dilakukan untuk mengamankan neraca pembayaran. Dengan begitu, permintaan terhadap dolar AS tetap terkendali.

"Nanti akhirnya neraca pembayaran harus disesuaikan. Kalau ekspor turun, impornya juga, sehingga tidak terjadi defisit," tambah Ani. Upaya menekan impor hanya dilakukan terhadap barang konsumsi. Sedangkan untuk barang modal dan baku, tidak bisa dikurangi karena bisa menekan pertumbuhan ekonomi.

Pengurangan impor juga tidak bisa dilakukan dengan proteksionisme. Seperti kesepakatan dalam komunike kelompok negara G-20, krisis finansial global harus diselesaikan bersama. "Kalau semua negara menganggap neraca pembayarannya terancam, maunya ekspor, tidak mau impor, itu kan berarti bisa macet," katanya.

Meski begitu, dia menilai rupiah saat ini masih berada dalam batas aman. Dia lantas menunjuk Australia, Singapura, dan India yang pelemahan mata uangnya 30-40 persen.

Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo menambahkan, imbauan agar masyarakat segera melepas dolar merupakan sinyal buruk dan kontraproduktif. Ini karena investor justru meningkatkan perburuan dolar untuk berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk.

Imbauan bank sentral dan pemerintah juga bisa ditafsirkan bahwa pada posisi sekarang inilah rupiah mendapatkan keseimbangan. "Artinya, sekarang saatnya bagi publik pemilik dolar AS melakukan profit taking, karena proses pelemahan rupiah sudah mencapai limit. Namun, fakta yang ada justru menjelaskan bahwa BI mulai panik karena kekeringan valas," sahut Bambang.

Di bagian lain, bursa saham juga belum bisa lepas dari tekanan. Pada perdagangan kemarin (19/11), indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali tergelincir 9,5 poin (0,8 persen) membentuk level 1.180,35. Indeks terus mendekati titik terendah pada Oktober lalu, saat nangkring di level 1.089. Kelompok 45 saham terlikuid, indeks LQ-45, melorot 2,43 poin (1,07 persen) menjadi 224,06.

Sebanyak 107 saham menurun harganya, 42 saham terkerek, dan 51 lainnya stagnan, dengan transaksi harian Rp 1,3 triliun.

Analis BNI Securities Maxi Liesyaputra mengungkapkan, kinerja bursa Asia yang tidak mengikuti penguatan indeks Dow Jones menjadi sentimen negatif bagi bursa saham di tanah air. Indeks Dow Jones sebenarnya menguat 151 poin (1,83 persen) karena didorong pernyataan pimpinan The Fed bahwa sudah ada tanda-tanda perbaikan dalam pasar kredit, meski masih menghadapi tantangan berat. ''Kurs rupiah yang belum menunjukkan perkembangan berarti turut menekan indeks,'' tuturnya.

Analis saham PT Optima Securities Ikhsan Binarto mengatakan, indeks diperkirakan kembali menuju bottom line-nya di 1.111. "Itu akan dijadikan entry point oleh investor. Saat ini investor masih menunggu," ujarnya. Semua indikator teknikal, sambung dia, masih memberi sinyal bearish dalam jangka pendek.

Saham-saham Grup Bakrie juga belum terlepas dari tekanan. Kondisi tersebut turut membawa bursa terjerembap ke teritori merah, mengingat besarnya kapitalisasi pasar saham-saham mereka, meski telah menyusut seiring luluhnya harga saham.

Saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), holding Grup Bakrie, meleleh 9,92 persen, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpangkas 9,47 persen, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) luruh 9,09 persen, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menyusut 9,52 persen, dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) menurun 3,64 persen.

Sementara itu, pihak BUMI menyatakan harga buyback mereka yang ditargetkan Rp 8,25 triliun untuk 3,3 miliar lembar saham dengan harga Rp 2.500 per lembar adalah hasil analisis yang cermat.

"Harga rata-rata Rp 2.500 merupakan hasil analisis matematis dari jumlah maksimum saham yang dibeli kembali dan dana yang dialokasikan, atau sebaliknya," kata Corporate Secretary Dileep Srivastava kepada otoritas bursa kemarin.(sof/eri/oki)

Sumber : Jawa Pos

1 comment:

  1. FOREX : PROFIT $1.800 HANYA DALAM WAKTU 4 MENIT!! GARANSI!
    PROFIT $1.800 HANYA DALAM WAKTU 4 MENIT !! DIJAMIN!! WALAUPUN ANDA SEORANG PEMULA SEKALIPUN DGN MODAL BERAPAPUN. GA PERCAYA? PERLU BUKTI ? LIAT AJA DIWEBSITE SAYA BUKTINYA DI belajar forex

    ReplyDelete

Designed By Published.. Blogger Templates