Kota Tarakan     Komunitas Blog Tarakan     LPSE Tarakan

Breaking News

Wednesday, November 19, 2008

Potret Manis Liukan Gadis Bali

Lirikan matanya seperti bola yang terpantul. Cekatan dari sudut mata ke sudut satunya. Tubuhnya menari. Gemulai. Kakinya menapak polos di permukaan bumi. Hampir tanpa letih. Menari dan terus menari. Lentik jarinya memberi sepoi-sepoi angin segar. Pasti sejuk dan menyegarkan. Menyejukkan siapa saja yang sedang mengagumi tariannya di bawah sinar bulan dan menyegarkan segala lelah seluruh tubuh perempuan penari hingga ia lupa berhenti. Setiap malam aku melihatnya menari di bawah siraman sinar bulan hingga tiap malam aku mengharapkan dia menari. Tak sadar aku selalu menanti. Entah menanti dia menari atau sekadar menanti berlalunya hari agar lekas malam. Sayang, malam ini bulan tertutup hujan. Hujan yang di kemudian hari kian giat memaksa aku untuk melihat liak-liuk tariannya hanya sebatas dalam angan-angan.

Perempuan yang wajahnya berias cahaya bulan telah lama menyita semua waktuku. Malam ini, dia telah membawa pergi dirinya. Seutuhnya. Sekalian pula turut terbawa pergi semua waktuku. Waktu yang dulu tidak pernah sia-sia. Waktu yang sekarang hanya bisa aku isi untuk mempermainkan imajinasi. Mungkin dia membawa semua itu untuk mencari sinar bulan yang tidak tertutup hujan. Aku tahu dia tidak mungkin berhenti menari hanya karena hujan. Dan aku tahu mengapa dia sengaja meninggalkan hujan di sini untukku. Seharusnya, dia turut meninggalkan pesan pada hujan. Sebab, hujan memang masih belum pandai menari. Seharusnya, dia melakukan itu lebih dahulu sebelum meninggalkanku. Dan aku pun jadi tak berteman kesepian ketika dia tinggalkan mencari sinar bulan.

Dalam kesepian, bagi penyair, perempuan yang kunikmati sendiri dalam imajinasi itu mungkin laksana puisi romantis. Bagi pelukis, mungkin lukisan ekspresionis. Tapi, di posisiku sebagai aku yang sekadar mengagumi, perempuan itu serupa gadis Bali yang tersesat di dasar hatiku. Yang barangkali sampai mati akan terus menari di sini. Di sini: di dada kiri yang selalu kutunjuk dengan jari telunjuk.

"Mengapa semua lukisan Bapak modelnya hanya gadis penari Bali?" tanya salah seorang wartawan di salah satu pameran seni-budaya.

Pertanyaan yang benar-benar sulit dalam hidupku. Sebab, aku tidak mungkin menjawab: "karena kesepian". Meskipun hanya itu yang jujur, tetapi itu jawaban yang paling tidak logis. Sebab, sangat tidak berhubungan dengan gambar yang kulukis. Jika kujawab dengan jawaban seperti itu, bisa-bisa aku dianggap seniman gila oleh semua orang. Dan reputasi yang kurintis sedari dulu cepat atau lambat akan hancur lebur. Tetapi, jika kujawab: "karena cinta", jelas tidak mungkin. Itu sama saja mendustai diri. Sebab, jika kumerasakan cinta, lebih baik kunikmati cinta itu sendiri di hati daripada membekukan cinta dalam sebuah gambar sederhana.

"Baca saja puisi yang tertera di tiap-tiap gambar. Kata-kata dalam puisi itu menjadi alasan saya mengapa dalam keseluruhan lukisan saya, saya memilih melukis gadis penari Bali." Begitu aku mengelak pertanyaan yang benar-benar sulit dalam hidupku. Biar saja wartawan itu yang mengartikan sendiri puisi-puisi yang hakikatnya memang sangat sulit dimengerti. Aku yakin hasilnya pasti akan menjadi terkaan semata.

Aku tidak perduli. Dia akan menganggap aku memotret puisi menjadi lukisan atau tidak berpikir sama sekali bahwa aku jujur melukis perempuan yang kini sibuk mencari sinar bulan. Aku tidak pernah ambil pusing dengan semua hal itu. Aku hanya ingin menunjukkan secara jujur bahwa sekarang hanya perempuan penari Bali yang bisa kulukis satu-satunya. Tidak ada yang lain dalam imajinasi kanvas selain gemulai si gadis Bali. Gadis yang sekarang justru terlihat menonjol menghiasi pameran lukisan dan yang sekaligus berhasil meninggalkan satu pertanyaan sulit dalam hidupku.

Sore itu, hujan deras dan sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti sama sekali malam nanti. Para penikmat seni di pameran tidak terlihat berkurang. Kuamati air hujan yang jatuh. Bulir-bulirnya tenang menetes searah ke tanah. Kadang-kadang sempat menampar dedaunan di depan galeri pemeran. Indah sekali. Tetapi sayang, ternyata tiap tetes air hujan tetap belum bisa menari seperti gadis Bali di malam hari.(*)

Oleh : Adhi Yudhono
Penulis adalah pelajar SMA GIKI 2 Surabaya
Sumber : Jawa Pos

No comments:

Post a Comment

Designed By Published.. Blogger Templates