Kota Tarakan     Komunitas Blog Tarakan     LPSE Tarakan

Breaking News

Friday, August 10, 2007

Menata Kepuasan Hati

KEPUASAN hidup kadang tak ubahnya seperti meminum air manis disaat terik. Semakin banyak direguk, kian bertambah rasa haus. Hingga akhirnya, seseorang tidak lagi sadar kalau seisi ruang perutnya cuma berisi air, lemas, tanpa daya.

Hampir tak seorang pun yang acuh tak acuh dengan yang namanya kepuasan. Semua orang nyaris ingin hidup tercukupi, bahkan berlebih, Saat itulah seolah senyum menjadi mudah mengembang. Pikiran terbang lepas. Hati tenang tanpa waswas.

Namun, seperti itukah kenyatan hidup yang sebenarnya. Sebagian orang-orang besar justru merasa paling gelisah ketika berada ditingkat kejayaan. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang depresi, stres. Mungkin, apa yang dialami seseorang pelawak kawakan seperti Rowan Atkinson bisa menjadi contoh. Siapa yang tak kenal Atkinson alias Mr Bean. Pelawak asal Inggris, yang kini terjun di dunia aktor inipun akhirnya dirawat diklinik pengidap depresi Cottonwood De Tucson di Arizona, Amerika. Ia depresi lantaran film terakhirnya Johnny English’ dinilai jeblok di pasaran. Padahal, di negerinya sendiri film komedi mata-mata itu tergolong lima besar. Kini, Atkinson lebih rela tinggal diklinik depresi walau mesti bayar enam ribu dolar Amerika seminggu demi menebus kegelisahannya sendiri.

Jadi, tidak selamanya sebuah kemegahan, kemasyhuran, jabatan dan kekayaan seseorang serta merta memberikan kepuasan lahir batin. Justru pada puncak tangga kemasyhuran itulah badai kekhawatiran kian besar, ia pun terhuyung dipermainkan kegelisahan dirinya sendiri takut kalau-kalau ia akan jatuh.

Kalau sedang berjaya saja manusia gelisah, apalagi ketika miskin. Ia merupakan potret lain dari sisi ketidakpuasan yang selalu bercokol. Bayang-bayang obsesi kaya, terkenal, kian merasuk dalam jiwa. Orang pun menjadi buta. Tidak lagi mampu membedakan mana yang boleh dan tidak. Semua seperti tanpa pagar, tanpa batas.

Rasulullah SAW, pernah menasehati umatnya untuk berhati-hati dengan kefakiran. Karena boleh jadi, kefakiran bisa membawa orang kepada kekufuran. Karena boleh jadi, orang yang terjebak dengan kemiskinan mulai menghujat takdir. Menghujat keputusan Allah yang adil dan bijaksana. Ia seolah begitu sulit menerima kenyataan. Selalu membanding-bandingkan antara nikmat Allah yang ia terima dengan nikmat orang lain. Dan bandingan itu kerap jatuh pada ketidakpuasan. Saat itulah, seseorang menghina pemberian Allah SWT.

Ia tidak lagi mampu menelusuri mutu kedalaman sebuah anugerah. Tidak lagi mampu menguak hikmah yang Allah sandingkan dari setiap kenyataan pahit hidup manusia. Mungkin ,seperti itulah sifat dasar manusia. Selalu berkeluh kesah. Dalam keadaan apapun, susah maupun senang. Seperti yang Allah gambarkan dalam firman-Nya di Surah Al-Maarij ayat 19 hingga 21. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.

Keluh kesah selagi ungkapan tidak puas dengan, mirip dengan dua sisi uang logam. Selalu berdampingan ketika ketidakpuasan hampir terkurangi dengan limpahan rezeki yang terus mengalir, disitulah hadir kikir. Saat itu ia menjadi lupa dengan keadaan sebelumnya. Sepertinya tak ada toleransi sedikitpun dengan berkurangnya rezeki yang ia miliki. Ketika miskin orang didera ketidakpuasan, ketika kaya dan berjaya dipermainkan kekhawatiran bangkrut dan jatuh. Seorang mukmin semestinya tidak berada dalam posisi merugikan itu. Filter imannya bisa memisah mana ketidakpuasan dan kekikiran. Baginya rezeki dan nikmat yang Allah anugerahkan tak ubahnya seperti sepatu. Hanya sekadar alat, kapan akan ia pakai dan kapan ia lepas. Kalaupun sepatu hilang, masih ada alat lain yang bisa menjadi pengganti. Tak perlu syukur dan tak pernah dipermainkan kekikiran karena semuanya, toh akan ditinggalkan.

Buat selamanya. Allah SWT mencirikan sifat mukmin itu dalam firman-Nya dalam surah Al-Furqon ayat 67. “Dan orang orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih lebihan, dan tidak (pula) kikir dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah tengah antara yang demikian”.

Hidup memang dalam rangka pencarian kepuasan. Tapi bukan kepuasan menggapai dunia dan isinya. Ada kepuasan lain yang jauh lebih berharga, kepuasan ketika tetap berada dalam jalan Allah .Ketika itulah, Allah ridho dengan orang-orang seperti itu. Dan, mereka pun ridho kepada Allah.(*)

sumber Radar Tarakan

No comments:

Post a Comment

Designed By Published.. Blogger Templates