Kota Tarakan     Komunitas Blog Tarakan     LPSE Tarakan

Breaking News

Monday, July 9, 2007

" Konsumerisme Masyarakat Terhadap Media "

Realitas media massa terutama saat ini, terutama televisi menjadi sebuah tanda tanya besar bagi masyarakat, apakah televisi sudah bisa menjalankan fungsi dan perannya sebagai media ? bukan hal yang tabu lagi ketika kita melihat bentuk-bentuk penayangan program acara saat ini, lebih banyak didominasi oleh penayangan sinetron dan infotaiment. Konsumsi masyarakat terhadap media televisi berubah secara signifikan, yang awalnya mereka mengkonsumsi televisi hanya sebagai pengetahuan mereka tentang informasi, namun kini merambah sebagai hiburan, pengisi waktu luang dan kebutuhan sehari-hari. Di indonesia hampir seluruh penduduk indonesia mempunyai televisi, dan konsumsi media mereka lebih didominan oleh televisi. Kita dapat menilik dari jam tayang program acara sinetron-sinetron dan infotaiment. Infotaiment, jam tayang infotaiment ditelevisi ditayangkan sebanyak 4X tayang yaitu pagi, siang, sore dan malam. Sinetron penayangannya juga tidak jauh berbeda dengan infotaiment, pagi, siang, sore, dan malam juga. Dengan agenda penayangan tersebut sudah dapat dilihat bahwa konsumsi masyarakat setiap hari adalah infotaiment dan sinetron.

Target audience yang menjadi sasaran adalah ibu-ibu rumah tangga dan remeja-remaja. Ketika pagi dan siang hari yang menjadi konsumsi televisi adalah ibu-ibu rumah tangga, sore dan malam hari adalah remaja-remaja. Infotaiment menayangkan realitas kehidupan para selebriti secara detail yang membawa emosi penonton untuk terus mengikuti pemberitaan tersebut. Sinetron menampilkan gaya penayangan yang tidak sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat indonesia, dimana sinetron selalu menampilkan gaya kehidupan masyarakat kelas atas, sementara audience dari sinetron adalah masyarakat kelas menengah ke bawah. Realitas seperti itu secara tidak langsung memberikan perubahan terhadap prilaku dan pemikiran masyarakat untuk bisa menjadi apa yang mereka lihat.

Media telah mampu menciptakan perubahan budaya, dimana biasanya ibu-ibu rumah tangga di rumah mengerjakan kegiatan sebagai ibu rumah tangga menjadi khayalak yang pasif. Khayalak yang hanya mampu melihat dan meniru tanpa mampu mencerna mana yang layak dilihat atau yang tidak layak. Terjadinya konsumerisme masyarakat terhadap media terjadi, karena media telah melakukan agenda setting yang mengatur apa yang harus dilihat audiencenya. Keseragaman acara dan tayangan diberbagai stasiun televisi juga menjadi salah satu faktor terjadinya konsumerisme media. Apa yang terjadi dimasyarakat tidak telepas dari apa yang diberikan media yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi khayalak.

Media mampu memberikan efek yang negatif dan positif terhadap khayalaknya, menurut teori efek sentrifugal dan sentripetal. Dari teori efek sentrifugal menekankan bahwa modernisasi, kebebasan dan mobilitas merupakan efek positif yang diharapkan dari media. Sebaliknya, sisi negatifnya melihat bahwa media menyebabkan terjadinya isolasi dan hilangnya nilai-nilai. Teori efek sentripetal, dari sisi positifnya melihat bahwa media bersifat integratif dan menyatukan. Sedangkan sisi negatifnya melihat media sebagai penyebab terjadinya homogenisasi dan kontrol manipulatif.( Croteau, David & William Hoynes.2000 ). Dari kedua teori tersebut, apa yang ditayangkan media televisi saat ini mengisolasi masyarakat untuk selalu berada dirumah mengikuti acara-acara televisi dan menghilangkan nilai-nilai budaya lokal dalam kehidupan masyarakat, serta memanipulasi realitas yang ada. Munculnya media-media baru yang memberikan alternatif pilihan bagi masyarakat untuk memilih informasi yang mereka butuhkan secara bebas. Namun bebasnya bermunculannya media-media baru ( media cetak ) tidak mempunyai pengawasan yang ketat dari pihak pemerintah, sehingga banyak media dalam informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat indonesia. Konsumerisme media yang terjadi dimasyarakat juga dipengaruhi oleh penguasa media yang mempunyai kekuatan penuh untuk mengatur media yang dimiliknya tanpa melihat apa yang menjadi kebutuhan masyarakat terhadap media. Hilangnya idiologi media sebagai media informasi dipengaruhi oleh idiologi dominan sang penguasa yang memberlakukan media sebagai sarana penyampaian idiologinya yang mampu menimbulkan profit, seperti yang dikatakan McQuail, dalam teori media kritis bahwa media dilihat sebagai alat dari kelas yang dominan dan sarana dimana kapitalis mempromosikan kepentingan pembuatan profitnya. Media menyiarkan idiologi dari kelas yang berkuasa dalam masyarakat dan menekan kelas-kelas tertentu.

Masyarakat sendiri sebagai khayalak secara tidak langsung telah dijajah oleh sistem kapitalisme melalui media, dimana media melalui penguasanya lebih mengutamakan privatisasi, keuntungan personal dan kompetisi bebas. Bentuk penjajahan yang halus melalui media, masyarakat selalu disuguhkan dengan ralitas-realitas yang tidak sesuai kehidupan sosialnya, akan menimbulkan hilangnya nilai-nilai sosial, membelenggu kretifitas dan memicu terjadinya konflik sosial.

Dalam kaitannya dalam hal ini seharusnya media harus mampu menjadi wacthdog bagi masyarakat yang menjalankan fungsinya sebagai media, Yaitu :
Sebagai sarana informasi yang membantu masyarakat dalam mencari informasi. Informasi. Media mampu memberikan informasi-informasi yang up to date kepada masyarakat secara rill.

Sebagai sarana pendidikan masyarakat dalam kehidupan sosial. Media mapu memberikan pendidikan kepada masyarakat dalam menjelajahi ilmu pengetahuan secara luas dari berbagai aspek.

Sebagai hiburan masyarakat. Media mampu memberikan hiburan kepada masyarakat baik secara fisik maupun rohani.

Sumber Artikel : www.tarakankota.go.id
Oleh : Tumariyah mahasiswa komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

1 comment:

Designed By Published.. Blogger Templates